Kamis, 02 Mei 2013

Beranda » Dari Mana Asal Virus H7N9?

Dari Mana Asal Virus H7N9?

TEMPO.CO, Roma - Virus flu burung strain baru H7N9 semakin ganas. Tidak hanya di Cina, virus mulai menyebar ke luar daratan Negeri Tirai Bambu.

Hingga hari ini tercatat lebih dari 120 kasus infeksi H7N9 telah melanda 10 provinsi di Cina. Sebanyak 24 kasus di antaranya berujung kematian.

Namun, sampai saat ini pula tidak ada yang mengetahui secara pasti dari mana asal virus mematikan itu. Padahal asal-muasal virus sangat penting untuk mencari cara menanganinya.

Untuk menelusuri sumber H7N9, sejumlah laboratorium pemerintah di Cina telah menguji 68.000 sampel sejak awal Maret. Sampel diambil dari peternakan dan pasar hewan, baik dari unggas maupun manusia yang pernah kontak dengan unggas yang terinfeksi.

Dari jumlah itu hanya ada 46 sampel, tersebar di Cina tengah ke timur, yang mengandung virus H7N9. Sebanyak 44 sampel berasal dari pasar yang menjual unggas hidup, satu sampel dari merpati balap perkotaan, dan satu sampel lainnya dari merpati liar.

"Tidak satu pun peternakan unggas yang positif H7N9," kata Juan Lubroth, kepala petugas veteriner Badan Pangan dan Pertanian (FAO) PBB di Roma, Italia, Kamis, 2 Mei 2013.

Perbedaan genetik antar-sampel menunjukkan virus telah menyebar pada beberapa jenis hewan selama beberapa bulan. Pertanyaannya kemudian, hewan apa saja?

Lubroth dan timnya telah mulai mencari virus dalam sampel yang lebih tua untuk memperluas penelusuran kandidat organisme pembawa (carrier) H7N9.

Hong Kong telah melarang pasar unggas hidup setelah pandemi flu burung H5N1 pada 2004. Beberapa kota di Cina sekarang telah menutup pasar unggas hidup mereka. "Tapi saya khawatir respons terburu-buru ini justru memperburuk perdagangan unggas," kata Lubroth seperti dikutip Newscientist.

Seperti H5N1, strain H7N9 bisa menyebar ke negara-negara tetangga, seperti Vietnam, yang tidak memiliki kemampuan sebaik Cina untuk memantau dan mencegah penyebaran penyakit. Bahkan dokter di Cina pun saat ini tidak bisa berbuat banyak jika menjumpai kasus infeksi H7N9.

Meluasnya penggunaan obat antivirus amantadine terhadap unggas di Cina telah memicu munculnya banyak strain flu yang resisten, termasuk H7N9. "Sejauh ini ada satu kasus infeksi H7N9 yang tidak mempan diberi obat antivirus Tamiflu," ucap Lubroth.

Sejumlah patogen, termasuk virus flu dan bakteri yang menyebabkan kegagalan fungsi multi-organ akibat peradangan, membunuh inangnya dengan memicu aktivasi sistem kekebalan tubuh secara berlebihan.

Masalah inilah yang sedang dipecahkan oleh Eisai. Perusahaan farmasi yang berbasis di Tokyo, Jepang, ini telah membuat Eritoran, obat untuk menghalangi respons sistem kekebalan tubuh secara berlebihan.

Sebuah uji klinis besar yang dilakukan pada 2011 menunjukkan bahwa Eritoran aman dikonsumsi oleh manusia, tetapi tidak dapat mengobati peradangan akibat infeksi. "Namun ada harapan bisa digunakan untuk mengobati flu (burung)," Lubroth menjelaskan.

Harapan muncul dari hasil penelitian Stefanie Vogel dan timnya dari University of Maryland Medical Center di Baltimore. Mereka menemukan bahwa 90 persen tikus yang terkena virus flu mematikan dapat diselamatkan saat dicekoki Eritoran dua hari setelah terinfeksi. Sepertiga tikus batal mati jika diberi Eritoran enam hari setelah tertular virus.

"Ini sangat berharga untuk mencegah pandemi flu di masa mendatang," kata Vogel, mensyaratkan Eritoran harus memberikan efek penyembuhan yang sama saat dikonsumsi manusia.

NEWSCIENTIST | MAHARDIKA SATRIA HADI


http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2013/05/02/brk,20130502-477490,id.html